Header Ads

Dewan Pers Imam Wahyudi Jelaskan Fungsi Jurnalis Yang Benar.



LUMAJANG - Workshoop jurnalis di gedung Soejono 11 September 2018 kemarin yang diselenggarakan oleh Komunitas Pers Independen (KOMPI) dengan menghadirkan 3 Nara sumber dari pusat Jakarta diantaranya Dewan Pers Imam Wahyudi  dikuti peserta kurang lebih1468 orang terdiri dari para guru SMP,SD,TK dan PAUD di Gedung Soejono kabupaten Lumajang.

Setelah berlangsungnya acara ceremonial, isi dari   workshop itu sangat membantu ketidak pahaman tentang pers, Bagi para peserta ketika pemateri dari dewan pers, Dengan banyaknya persoalan di kalangan masyarakat dan juga lembag-lembaga terkait tentang Pers yang membuat perasaan tidak nyaman seperti pertanyaan Bu Alfiyah salah satu guru dari SMP Negeri 1 Sukodono yang menggambarkan bahwa ada seorang  datang ke kantornya dengan mengaku dari wartawan dengan tujuan  memaksa mau ketemu kepala sekolah, padahal sudah kita sampaikan kalau kepala sekolahnya tidak ada di tempat tapi wartawan tersebut masih tidak percaya kalau kita sampaikan seperti itu dan dia lontarkan dengan nada atau  wajah yang seram  mengancam, selain itu  ada lagi ditempat lain yang sama tiba tiba wartawan datang ke kantor dengan penampilan pakaian yang nyentrik dan wajah menyeramkan.

Imam Wahyudi menyampaikan dengan jelas pada masyarakat apabila berurusan dengan wartawan maka gunakan bahasa luwes,sopan sambil  menanyakan identitasnya kalau dia benar-benar dari Pers (wartawan) agar ada kejelasan maksud dan tujuan mereka,
Sekali lagi saya berpesan jangan takut dengan wartawan asalkan untuk menyampaikan dengan bahasa yang luwes dan sopan, Apabila wartawan menjawab dengan intonasinya perkataan keras yang agaknya memaksa dan kurang sopan  atau menyangkut hukum, maka dipersilahkan untuk di laporkan  melalui jalur pidana sehingga masuk dalam proses dari pihak kepolisian  meminta keterangan dewan pers sebagai saksi ahli.

Kemudian ada lagi permasalahan   pemberitaan yang membuat fitnah dan tidak jelas dengan sumber informasi bahkan tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum, maka pemberitaan tersebut bisa di laporkan pada pihak yang berwajib (Polisi) Karena dari pemberitaan tersebut termasuk pencemaran nama baik rananya  pidana.

Perlu diketahui persoalan  pelanggaran pidana yang  menggunakan baju/identitas pers itu sudah di atur dalam MoU antara Polri dan Dewan Pers sehingga Pers (wartawan) harus taat kepada Undang undang kebebasan pers No 40 tahun 1999,
kebebasan pers (Wartawa) tersebut tidak boleh semena mena atau semaunya sendiri karena di dalam UU pers sudah di jelaskan dan di atur tentang menyajikan pemberitaan untuk kepentingan publik dengan etikat bahasa yang baik sesuai standar teknis penulisan dan standar kode etik pers,yang perlu juga dipahami berdasarkan undang undang No 40 tahun 1999 dan juga perlu di ketauhi tentang aturan bahwa pers atau wartawan bertugas untuk menjalankan  liputan investigasi konfirmasi kemudian dihalang halangi maka orang yang menghalangi tersebut akan kena sangsi denda 500 juta." Pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Lumajang Siswinarko memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan workshop jurnalis yang di selenggarakan oleh Komunitas Pers Independen (KOMPI) saat wawancara dengan pihaknya menjelaskan bahwa penyelenggaraan yang diatur hanya10 orang dari anggota KOMPI antara lain Moch.Misdi SH.MH dari koran Merdeka News,Syamsudin Pedoman Indonesia Online,Priyo Suwoko dari Koran DOR,Fuat Suara Indonesia Online, A.Bekti Wiyono Koran Radar Nasional,Atik Suara Media Indonesia,Hendrik NewsWeek, Suatman Radar Timur,Heri Sumardiono Harian Nasional dan Eko koran Jawa Pes, pelaksanaanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

"Saya berikan ucapan selamat kepada Komunitas Pers Independen (KOMPI) untuk pelaksanaan workshoop jurnalis pada beberapa hari yang lalu tanggal 11/9/2018 berjalan dengan  lancar dan sukses." singkatnya. (Bkt/red)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
....
....