Header Ads

Menelisik Kartel Peternakan Ayam



Jogjakarta, Radarnasional.net
Ketidak adilan perdangangan ayam, beberapa waktu ini sedang ramai diperbincangkan, melalui berbagai media dan juga keluhan dari masyarakat, hal ini di picu oleh rendahnya harga ayam broiler ditingkat peternak ayam.

Dalam 10 bulan terakhir harga ayam mencapai titik terendah Rp.7.000/kg, sedangkan biaya produksi ayam mencapai Rp.18.700/kg, hal ini membuat peternak ayam rugi, kondisi ini bertolak belakang dengan harga ayam di pasaran yang mencapai Rp.30.000/kg.

Peternak ayam tidak berdaulat dalam menentukan harga ayam, sementara masyarakat harus menerima harga ayam di pasaran dengan harga yang tinggi, Pemerintah sebagai pengambil kebijakan kurang cermat melihat kondisi ini, untuk menyeimbangkan kebutuhan pasar dan ketersediaan barang.

Melihat realitas tersebut MPM PP Muhamadiyah, mengadakan diskusi, dengan topik " Telisik Kartel Peternakan Ayam", jum'at (5/7), pukul 19.30-selesai, di Aula Gedung PP Muhamadiyah, jln. KH. Dahlan 103, yogyakarta, dengan nara sumber : Bambang Suwignyo,Ph.D ( MPM.PP Muhamadiyah/ Dosen Peternakan UGM), Ir.Pardjuni ( Ketua PINSAR IND.Jateng).

Ketua MPM PP Muhamadiyah, Dr.Muhamad Nurul Yamin, dalam sambutan  diawal diskusi mengatakan, kegiatan ini adalah diskusi rutin dua mingguan, dalam mensikapi berbagai persoalan yang sedang terjadi di tengah masyarakat ,dengan tujuan untuk membedah akar masalah dan sebagai bentuk keberpihakan MPM PP Muhamadyah kepada "korban" ketidak adilan peternakan ayam. Karena MPM PP Muhamadiyah berpandangan bahwa kegiatan beternak sebagai salah satu aktifitas ekonomi masyarakat serta merupakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kegiatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pangan bangsa, adalah misi MPM PP Muhamadiyah, sebagai bagian pengentasan kemiskinan dan jihad menegakkan kedaulatan pangan, ujarnya.

Sementara itu, dari paparan Ir.Pardjuni, dari PINSAR IND. mengatakan peternak ayam sudah mengalami kerugian sejak awal tahun 2019, masalah ini sudah disampaikan kepada Pemerintah (Kementerian Pertanian) tapi belum ada tindakan, berdasarkan data dilapangan penyebabnya adalah ketidak stabilan harga ayam broiler dipasar, karena terjadi "over stock" 10-15% setiap bulan, akibatnya setiap 3 bulan harga ayam broiler terjun bebas, di Jawa Tengah saja kerugian ditaksir Rp.1 Triliun , selama 6 bulan terakhir.

Menurut data yang disampaikan oleh Bambang Suwignyo,Dosen Peternakan UGM ,bahwa Proyeksi kebutuhan daging ayam nasional tahun 2019, mencapai 3.25 juta ton, atau 271 ribu ton/bulan. Potensi produksi DOC FS tahun 2019 diperkirakan 3.50 miliar ekor atau 291 juta ekor/bulan, setara daging ayam sebanyak 3.60 juta ton/tahun atau 303 ribu ton/bulan. Potensi surplus daging ayam tahun 2019 diperkirakan mencapai 32 ribu ton/bulan atau 395 ribu ton/tahun.

Berdasarkan Permentan 32,pasal 19. Min 50 % produksi DOC dari integrator adalah untuk peternak rakyat ,mandiri/koperasi, dan 50% max untuk integrator. Hal ini menyebabkan resiko persaingan tidak seimbang, karena integrator yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari menguasai jatah produksi 50%, berpotensi berhadapan langsung dengan peternak rakyat ,mandiri/ kopersai yang jumlahnya ribuan.

Faktanya adalah integrator dan peternak rakyat/mandiri bertarung dipasar yang sama (pasar tradisional) sehingga terjadi persaingan tidak seimbang, dan memungkinkan integrator lebih leluasa menguasai pasar tradisional. pungkasnya.(ypt)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
....
....